11/12

Berada di Bandung seperti liburan. Tv kabel, stok kopi yang tiada habisnya dan tentu saja, koneksi internet 24 jam. Siapa bilang berada di rumah tidak bisa bekerja dan berlibur sekaligus? Sayang sekali, berlibur dan bekerja, bersenang-senang dan serius bukan empat-empatnya yang diberikan oleh informasi. Kedukaan juga anak informasi.

Tiga hari yang lalu, bagaimana kedukaan dihasilkan dengan menonton tv dibuktikan. Saya menitikkan air mata menonton liputan National Geographic tentang peristiwa 11 September 2001, the famous 9 11. Menonton bagaimana orang-orang yang selamat dari kejadian tersebut mengkonstruksikan kembali kejadian di pagi yang cerah itu, membawa saya seperti berada di New York ketika dua buah pesawat sipil yang dibajak Al Qaeda menabrak gedung kembar World Trade Center.

Ada lebih dari 3000 orang mati hari itu. 3000 orang yang memiliki keluarga dan teman, mati untuk sebuah alasan yang mereka tidak pernah tahu. Keluarga yang ditinggalkan tidak pernah menemukan mayat mereka yang hancur bersama panasnya baja yang meleleh yang membuat gedung itu runtuh. Tidak sempat mengucapkan perpisahan., tidak sempat mengucapkan kata sayang, tak sempat mengucapkan permohonan maaf. 3000 orang yang mati meninggalkan puluhan ribu, bahkan jutaan yang lain dalam kedukaan. Saya ingat 2001, saya ketiduran di depan tv yang masih menyala. Entah kenapa, tiba-tiba saya terbangun, lalu menonton adegan pesawat yang menabrak gedung. Awalnya saya pikir itu film, tapi ternyata itu berita, yang disiarkan satu jam setelah kejadian. Saya nyaris tidak percaya. 9 11, menjadi alasan George Bush menginvasi negara lain. Membawa terorisme ke dalam kesadaran semua orang. Hati-hati bom, hati-hati ada kelompk agama tertentu yang akan menghancurkan yang lain. Teror yang menghancurkan kepercayaan kita terhadap kemanusiaan.

Lahir dengan latar belakang Kristen membuat saya sangat sadar dengan teror semenjak hari itu. Setiap pemberitaan mengirimkan pesan: kelompok Islam fundamentalis melancarkan tindakan mengerikan untuk memerangi barat, memerangi Kristen dan pemerintah tidak punya kemampuan untuk melindungi kami. Menjadi target yang empuk, karena saya lahir di keluarga Kristen, perwakilan barat. Seakan-akan yang bernama ‘barat’ adalah sama setannya (dan semua yang ‘timur’ sama bijaksananya), seakan-akan yang berlabel ‘Amerika’ wujudnya putih dan berwatak pengisap, seakan-akan yang beridentitas Kristen akan memaksa orang masuk dalam ‘kemurtadan’. Saya ingat, antara 2001 hingga 2010 saya menuliskan ini, ada beragam bom meledak di tanah air kita. Rangkaian peledakkan bom yang bahkan punya nama, seperti bom natal. Salah satunya pernah meledak di dekat rumah saya, di Antapani. Meledak saat di rakit. Meledak satu hari tepat sebelum natal, di sebuah bengkel tepat di jalan utama menuju Antapani.

Islam menjadi wujud yang mengerikan, terutama bagi orang-orang yang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, tidak punya teman Islam, tidak punya tetangga Islam. Tidak tahu bahwa pandangan dalam Islam juga beragam. Maka saya kagum dengan Obama yang berani berkata bahwa yang menabrakkan pesawat ke WTC hari itu bukanlah Islam, tetapi Al Qaeda. Saya senang juga melihat banyak warga Amerika yang turun ke jalan menolak ajakan seorang pendeta dari gereja di Florida untuk membakar Al Quran dan mendukung pendirian mesjid di sekitar Ground Zero. Warga Amerika pun tidak semuanya sama. Seorang Amerika berkulit putih yang ikut dalam aksi berkata, “Orang Amerika tidak semuanya Protestan. Melarang agama tertentu mendirikan rumah ibadahnya tidak sesuai dengan konstitusi kita dan cita-cita bapak pendiri negara ini.” Saya tidak tahu, apakah pendeta itu punya kenalan orang Islam? Apakah orang yang membajak pesawat itu punya kenalan Kristen?

Apa yang bisa kita lakukan atas nama agama memang luar biasa. Atas nama agama, jemaat HKBP tetap bertahan untuk beribadah meskipun sekelompok orang melarang mereka dan polisi memperingati mereka. Atas nama agama pula, satu kelompok orang menyuruh jemaat HKBP untuk menghentikan ibadahnya. 12 September 2010, ada penusukan yang disinyalir atas nama agama. Hampir satu dekade semenjak 2001. Agama sungguh menghipnotis, sampai orang kadang tak sadar penganut agama lain diciptakan oleh Khalik yang sama. India yang ‘Hindu’ versus India yang ‘Islam’, Irlandia yang ‘Katolik’ versus Irlandia yang ‘Protestan’. Kami yang baik versus kamu yang buruk.

Saya selalu berpikir orang baik adalah orang baik, apapun agamanya. Ada orang Islam yang baik, ada pula yang tidak baik. Bukankah beberapa dari para koruptor kita sholat lima waktu dan bergelar Haji? Beberapa koruptor kita juga ada yang ke gereja, tapi saya kenal juga orang Kristen yang baik. Saya terkesan dengan satu adegan dalam film ‘My name is Khan’, sebuah film yang dibangun dengan latar belakang konflik agama. Dalam adegan itu, ketika Khan kecil meneriakkan slogan bunuh orang Hindu, ibu Khan menggambarkan orang-orangan di atas kertas putih untuknya, lalu bertanya kepada Khan. “Orang ini memberikan permen untukmu. Apakah dia orang baik?” Khan kecil mengiyakan. Lalu ibunya bertanya lagi, “Apakah kau tahu agamanya?” Khan hanya diam. Adegan itu sungguh luar biasa.

Saya kira Tuhan sama baiknya pada orang yang beragama berbeda maupun yang tidak beragama. Saya dengar banyak kisah-kisah mukjizat yang terjadi bagi orang Islam, tak kalah banyaknya dengan kisah-kisah mukjizat yang dialami orang Kristen dan orang-orang yang beriman berbeda. Kebaikan Tuhan sama rata bagi semua orang. Sehingga untuk saya, menghargai kebaikan Tuhan, adalah dengan menghargai segala ciptaannya, yang serba berbeda itu. (Kalau saya sering gagal melakukannya, ya sorry sorry jek, namanya juga orang. Itulah sebabnya saya sering minta maaf.)

Hampir satu dekade semenjak peristiwa 11 September, kekerasan 12 September terjadi. Alasannya, mirip-miriplah, 11/12. Agama. Semoga segala yang mati kembali kepada Sang Pencipta, dan semoga segala kedukaan dari sejarah manusia dapat menjadi pelajaran kemanusiaan.[]

Comments (1) »

Orang-Orang Luar Biasa

Di akhir makan malam kemarin, saya dan pacar saya Mujib bercerita tentang orang-orang luar biasa yang berada di sekeliling kami. Obrolan dimulai karena sore kemarin seorang kawan bercerita tentang kehidupannya semasa kuliah, bagaimana bapaknya di kampung mengirim uang yang hanya pas-pasan, bagaimana ia berstrategi berburu beasiswa dan menulis artikel meski dibayar sangat kecil. Siang-siang katanya, di masa semester satu sekitar tahun 1999, ia dan temannya naik kereta ekonomi dari Depok hendak ke Jl Saharjo di Tebet untuk mengambil bayaran hasil menulis artikel. Turun di Manggarai, dari sana mereka jalan kaki, bertanya-tanya mencari arah. Kiloan meter ditempuh, sampai di lokasi majalah itu ternyata uang bayaran belum bisa diambil.

“Gwa mesti bawa ini itulah. Sampai tiga kali gwa datang. Alasan yang kedua, orang keuangannya nggak ada. Baru ketiga kalinya datang, gwa dapat uangnya. Itupun ternyata cuma dibayar Rp 50.000, dipotong pajak katanya, jadi di tangan cuma Rp 40.000. Padahal tuh ya, gwa tulis artikel karena ada pemberitahuannya ada bayaran. Padahal itu orang yang punya majalah punya perusahaan lain juga.”

Majalah yang mengangkat kehidupan satu etnis tertentu di Indonesia dan yang beredar hingga ke seluruh nusantara itu hanya memberi bayaran Rp 40.000 kepada seorang mahasiswa yang mendapat kiriman pas-pasan dari bapaknya yang bekerja sebagai petani di kampung. Bayaran untuk satu tulisan tentang kondisi pendidikan di kampungnya. Kata Mujib belakangan, teman kami ini ketika SD harus berjalan berkilo-kilo meter dari rumah ke sekolah. Bayangkan, kata Mujib. Ada anak dari kampung di Sumatera, akhirnya sampai di Jakarta. Bergulat dengan segala kesulitan akses akibat ekonomi yang luar biasa terbatas, menurut Mujib kami berdua sangat beruntung ketika mahasiswa dan saya setuju.

Ketika masa kuliah S1 dulu, saya dan Mujib tidak pernah memikirkan dengan apa kami akan bayar sekolah atau bagaimana kami makan. Kami lahir dari keluarga yang cukup. Kami memang tidak hidup bermewah-mewah. Mujib hidup sederhana dengan teman-teman organisasinya selama kuliah di IAIN Yogyakarta dan saya sedang belajar mengatur uang, karena semenjak semester dua saya bayar kuliah sendiri. Kerja sana sini, jadi asisten laboratorium komputer dan kerja part time di LSM; tapi semuanya tidak saya lakukan karena kondisi keluarga saya yang memaksa tapi karena saya ingin mandiri. Dan untuk mandiri ketika itu cukup memudahkan karena saya pandai berkomputer, hobi memotret dan bisa berbahasa Inggris. Keuntungan yang saya dapatkan lagi-lagi karena saya lahir dari keluarga yang mencukupi.

Di IAIN kata Mujib, banyak sekali mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin. “Sebagian besar jadi takmir mesjid. Lumayan bisa dapat tempat bernaung. Ya tiap pagi harus bersih-bersih mesjid dan mengumandangkan azan.” Mujib lalu bercerita tentang kawannya yang sering tidak dapat uang kiriman, sehingga terpaksa tidak makan. “Kalau hari ini dan besok makan bareng, besoknya dan besoknya lagi dia nggak makan. Jadi ada dua hari dia bisa nggak makan. Tiduran saja di kontrakan.” Mujib juga bercerita tentang temannya yang lain yang hanya makan sekali sehari karena tidak punya cukup uang. Kawan yang lain terpaksa mengamen. Suatu hari, mereka berkelahi dengan pengamen lain. Banyak kawan mahasiswanya yang menjadi buruh kasar untuk bertahan hidup dan mengejar cita-cita pendidikan.

“Tapi aku paling salut dengan seorang kawan. Dia tinggal di Klaten. Kalau ke Yogya naik sepeda ontel. Bukan karena pingin ramah lingkungan atau apa. Ya karena memang cuma punya sepeda itu. Dulu pernah jadi takmir tapi akhirnya pindah tinggal di kampus karena dia aktif di organisasi. Tiap pagi di naik sepeda jadi loper koran. Pernah jadi buruh juga. Jualan gorengan juga. Yang luar biasa, kalau punya sesuatu dia selalu berbagi. Padahal aku tahu, dia kekurangan. Orangnya ramah sekali,” cerita Mujib.

Cita-cita menggapai pendidikan sembari menyambung hidup. Saya jadi ingat dengan Budi, anak kecil dalam lagu Iwan Fals yang mencari uang di Pancoran.

Dalam sebuah seminar di UI, Fasli Jalal Wakil Menteri Pendidikan menjelaskan potret pendidikan di Indonesia. Mulai dari SD hingga pendidikan tinggi. Paparnya, hanya 20% dari usia sekolah yang mampu menginjak bangku kuliah dan hanya 2% dari usia sekolah yang datang dari keluarga miskin yang mampu mencapai tingkat pendidikan tinggi. Menambah sekolah-sekolah swasta guna memperluas akses pendidikan tinggi sepertinya bukan jawaban, karena menurut Jalal, pendidikan tinggi di Indonesia didominasi oleh penyelenggara swasta. Itulah sebabnya menurut dia, anak dari keluarga miskin tidak mampu. Bayangkan, di IAIN yang notabene milik negara di akhir tahun 90-an saja anak dari keluarga miskin sudah kelimpungan untuk membayar kuliah dan menyambung hidup, apalagi biaya pendidikan hari-hari ini.

Entah apa yang dipikirkan pemerintah ketika dia melakukan privatisasi layanan publik. Melepaskan pendidikan kita kepada swasta. Melepaskan subsidi-subsidi pertanian atau bahan bakar (dan bukannya memperbaiki sistem distribusinya di masyarakat) yang makin membuat beban hidup bertambah. Patut kita tanyakan tentang kewajiban bersekolah sembilan tahun dan bebas biaya sekolah yang begitu mereka banggakan, tetapi sekolah-sekolah ada di pusat kota dan biaya kendaraan melambung tinggi sehingga murid di daerah yang terpencil tetap sulit untuk bersekolah. Perlu kita tanyakan tentang biaya untuk bertahan hidup yang semakin berat sehingga pilihannya seringkali tidak bisa antara waktu untuk mencari makan atau waktu untuk bersekolah. Mau tidak mau harus cari makan.

Tanyakan kepada pemerintah, kenapa Cuba yang komunis yang dijadikan salah satu poros setan justru 100% masyarakatnya melek huruf dan kenapa malah lebih banyak orang tidak bisa membaca di Amerika? Kemana ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan …, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ kita? Saya dan Mujib memang benar-benar orang yang beruntung lahir dalam keluarga yang serba berkecukupan.

Untuk orang-orang luar biasa yang memperjuangkan hidup dan hak-haknya demi sebuah cita-cita, I salute you!

MENOLAK PRIVATISASI LAYANAN PUBLIK!
NEOLIBERAL=PRIMITIF

Comments (1) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.