Berada di Bandung seperti liburan. Tv kabel, stok kopi yang tiada habisnya dan tentu saja, koneksi internet 24 jam. Siapa bilang berada di rumah tidak bisa bekerja dan berlibur sekaligus? Sayang sekali, berlibur dan bekerja, bersenang-senang dan serius bukan empat-empatnya yang diberikan oleh informasi. Kedukaan juga anak informasi.
Tiga hari yang lalu, bagaimana kedukaan dihasilkan dengan menonton tv dibuktikan. Saya menitikkan air mata menonton liputan National Geographic tentang peristiwa 11 September 2001, the famous 9 11. Menonton bagaimana orang-orang yang selamat dari kejadian tersebut mengkonstruksikan kembali kejadian di pagi yang cerah itu, membawa saya seperti berada di New York ketika dua buah pesawat sipil yang dibajak Al Qaeda menabrak gedung kembar World Trade Center.
Ada lebih dari 3000 orang mati hari itu. 3000 orang yang memiliki keluarga dan teman, mati untuk sebuah alasan yang mereka tidak pernah tahu. Keluarga yang ditinggalkan tidak pernah menemukan mayat mereka yang hancur bersama panasnya baja yang meleleh yang membuat gedung itu runtuh. Tidak sempat mengucapkan perpisahan., tidak sempat mengucapkan kata sayang, tak sempat mengucapkan permohonan maaf. 3000 orang yang mati meninggalkan puluhan ribu, bahkan jutaan yang lain dalam kedukaan. Saya ingat 2001, saya ketiduran di depan tv yang masih menyala. Entah kenapa, tiba-tiba saya terbangun, lalu menonton adegan pesawat yang menabrak gedung. Awalnya saya pikir itu film, tapi ternyata itu berita, yang disiarkan satu jam setelah kejadian. Saya nyaris tidak percaya. 9 11, menjadi alasan George Bush menginvasi negara lain. Membawa terorisme ke dalam kesadaran semua orang. Hati-hati bom, hati-hati ada kelompk agama tertentu yang akan menghancurkan yang lain. Teror yang menghancurkan kepercayaan kita terhadap kemanusiaan.
Lahir dengan latar belakang Kristen membuat saya sangat sadar dengan teror semenjak hari itu. Setiap pemberitaan mengirimkan pesan: kelompok Islam fundamentalis melancarkan tindakan mengerikan untuk memerangi barat, memerangi Kristen dan pemerintah tidak punya kemampuan untuk melindungi kami. Menjadi target yang empuk, karena saya lahir di keluarga Kristen, perwakilan barat. Seakan-akan yang bernama ‘barat’ adalah sama setannya (dan semua yang ‘timur’ sama bijaksananya), seakan-akan yang berlabel ‘Amerika’ wujudnya putih dan berwatak pengisap, seakan-akan yang beridentitas Kristen akan memaksa orang masuk dalam ‘kemurtadan’. Saya ingat, antara 2001 hingga 2010 saya menuliskan ini, ada beragam bom meledak di tanah air kita. Rangkaian peledakkan bom yang bahkan punya nama, seperti bom natal. Salah satunya pernah meledak di dekat rumah saya, di Antapani. Meledak saat di rakit. Meledak satu hari tepat sebelum natal, di sebuah bengkel tepat di jalan utama menuju Antapani.
Islam menjadi wujud yang mengerikan, terutama bagi orang-orang yang tidak pernah bersentuhan dengan Islam, tidak punya teman Islam, tidak punya tetangga Islam. Tidak tahu bahwa pandangan dalam Islam juga beragam. Maka saya kagum dengan Obama yang berani berkata bahwa yang menabrakkan pesawat ke WTC hari itu bukanlah Islam, tetapi Al Qaeda. Saya senang juga melihat banyak warga Amerika yang turun ke jalan menolak ajakan seorang pendeta dari gereja di Florida untuk membakar Al Quran dan mendukung pendirian mesjid di sekitar Ground Zero. Warga Amerika pun tidak semuanya sama. Seorang Amerika berkulit putih yang ikut dalam aksi berkata, “Orang Amerika tidak semuanya Protestan. Melarang agama tertentu mendirikan rumah ibadahnya tidak sesuai dengan konstitusi kita dan cita-cita bapak pendiri negara ini.” Saya tidak tahu, apakah pendeta itu punya kenalan orang Islam? Apakah orang yang membajak pesawat itu punya kenalan Kristen?
Apa yang bisa kita lakukan atas nama agama memang luar biasa. Atas nama agama, jemaat HKBP tetap bertahan untuk beribadah meskipun sekelompok orang melarang mereka dan polisi memperingati mereka. Atas nama agama pula, satu kelompok orang menyuruh jemaat HKBP untuk menghentikan ibadahnya. 12 September 2010, ada penusukan yang disinyalir atas nama agama. Hampir satu dekade semenjak 2001. Agama sungguh menghipnotis, sampai orang kadang tak sadar penganut agama lain diciptakan oleh Khalik yang sama. India yang ‘Hindu’ versus India yang ‘Islam’, Irlandia yang ‘Katolik’ versus Irlandia yang ‘Protestan’. Kami yang baik versus kamu yang buruk.
Saya selalu berpikir orang baik adalah orang baik, apapun agamanya. Ada orang Islam yang baik, ada pula yang tidak baik. Bukankah beberapa dari para koruptor kita sholat lima waktu dan bergelar Haji? Beberapa koruptor kita juga ada yang ke gereja, tapi saya kenal juga orang Kristen yang baik. Saya terkesan dengan satu adegan dalam film ‘My name is Khan’, sebuah film yang dibangun dengan latar belakang konflik agama. Dalam adegan itu, ketika Khan kecil meneriakkan slogan bunuh orang Hindu, ibu Khan menggambarkan orang-orangan di atas kertas putih untuknya, lalu bertanya kepada Khan. “Orang ini memberikan permen untukmu. Apakah dia orang baik?” Khan kecil mengiyakan. Lalu ibunya bertanya lagi, “Apakah kau tahu agamanya?” Khan hanya diam. Adegan itu sungguh luar biasa.
Saya kira Tuhan sama baiknya pada orang yang beragama berbeda maupun yang tidak beragama. Saya dengar banyak kisah-kisah mukjizat yang terjadi bagi orang Islam, tak kalah banyaknya dengan kisah-kisah mukjizat yang dialami orang Kristen dan orang-orang yang beriman berbeda. Kebaikan Tuhan sama rata bagi semua orang. Sehingga untuk saya, menghargai kebaikan Tuhan, adalah dengan menghargai segala ciptaannya, yang serba berbeda itu. (Kalau saya sering gagal melakukannya, ya sorry sorry jek, namanya juga orang. Itulah sebabnya saya sering minta maaf.)
Hampir satu dekade semenjak peristiwa 11 September, kekerasan 12 September terjadi. Alasannya, mirip-miriplah, 11/12. Agama. Semoga segala yang mati kembali kepada Sang Pencipta, dan semoga segala kedukaan dari sejarah manusia dapat menjadi pelajaran kemanusiaan.[]
